Saturday, December 5, 2009

PENGEMBANGAN KOTA


IMAGING WARUNG KOPI DI KOTA YANG SEDANG MEKAR
Sangatta dalam dekapan perjalanan malam 2 jam

Hujan masih menyisakan ritik-rintik kecilnya. Bau aspal yang dari siang tadi menyengat hidung para pengguna jalan Sengata-Bontang, malam itu hanya terkesan membeku, tak lebih kuat dari angin malam yang bergerak gontai mengusung dan menyebarkan dinginnya ke hampir semua penduduk Jl. Yos Sudarso. Tak pelak, banyak pemilik rumah di kanan kiri jalan utama kota Sengata itu memilih menutup rapat-rapat pintu rumah mereka guna mengusir dingin yang terus menyayat.

Hujan mencipta dingin; dingin mencipta sepi, dan sepi menghapus semua harap dari toko-toko dan warung yang betebaran mengapit jalan kota sengata; membayangkan ada pengunjung, pun satu malam itu seakan tidak mungkin, alih-alih berharap lebih. Namun semua suasana lengang yang hampir membisu itu tak sangggup bergeming dalam kebisuannya ketika suara knalpot motor vespa produksi tahun 94 yang seharusnya diistirahkan majikannya itu menderu-deru menyisir sepanjang jalan Yos Sudarso, Sengata Utara.

“Kawan, kita menghangatkan malam ini di Swarga bara aja, sxan bersikap elitis dengan seumur-umur mencoba sekali ngopi dengan harga 50 rb secangkirnya disana”, celoteh awak sambil tetap focus mempehatikan jalanan yang licin karena air hujan yang belum kering benar.

“Ah Kawan, dicoba aja emang tidak ada salahnya”, timpal Kawan lama awak (Samsul Bahri) yang saat itu semingguan menjalani kehidupannya di Sengata Kutai Timur.
Memang, dingin malam itu seakan membenarkan semua tindakan yang mungkin dilakukan untuk mengusirnya. Tak heran café bintang, dan tempat remang-remang lain disudut kota Sengata tampak dipenuhi mobil-mobil mahal dari para pekerja perusahaan yang ada di Sengata. Fortuner, strada, everest, memang menjadi pemandangan biasa yang bisa ditemui melintasi jalanan kota sangatta disetiap menitnya; namun jika mobil-mobil mahal itu terparkir rapi di remang-remang kelas ekonomi itu baru ada malam mini. Tak ayal dingin mengalahkan gengsi dan nurani, mengusirnya dengan bagaimanapun cara.

Namun kami memilih bersikap wajar, hanya sedikit menaikkan tensi dengan mengkonsumsi kopi yang biasanya 5000 satu cangkirnya, malam itu sengaja memilih kopi mahal; 50.000 satu gelasnya. “ya seperti inilah kawan, swarga bara (town hall) yang di design oleh perusahan tambang batu bara besar disini, KPC. Ini adalah bukit yang dijadikan lokasi mess untuk para pekerja KPC itu”. Ujarku.
“wah kawan, kok sudah pada tutup warungnya”, ujar kawan Sam, “yang ada hanya toko minuman dingin, sementara kopi dan jahe hangat pasti tidak adanya”. Lanjutnya.
“iya kawan, baiknya kita meluncur turun lagi, menelusuri Sengata, mencari warung kopi yang mungkin masih buka”, tawarku.

Bunyi knalpot Vespa bututku kembali memecah sunyi malam, menggerus kebekuan yang dicipta hujan. Menyusur hati-hati aspal jalan kota Sengata yang belum hilang licinnya. Sengata memang tidak seperti kota-kota lainnya, terlebih jangan anda bandingkan dengan kota di Jawa. Ibu kota dari kabupaten Kutai Timur ini adalah kota baru yang sedang mekar. Pemakaran Kutai Timur terjadi pada medio tahun 1999 dari kabupaten Kutai Kartanegara. Tak heran sampai akhir tahun 2009 ini, kota Sangatta terkesan kusam sebagai akses dari pembenahan kota.

Turun dari Swargabara, motor vespa kami menyusur jalan Yos Sudarso III, melintasi Pasar Teluk Lingga sampai pertigaan jalan pendidikan. “cittt…cittt…”, terkadang rem kaki motor vespa dengan bodi bercat biru tua itu tiba-tiba aku injak dan membuat kaget kawan Sam yang aku bonceng dibelakang. “ada apa kawan?”, tegur kawan Sam. “gak kawan, kirain tadi warung kopi”, tandasku. “santai aja kawan, biar saya yang memelototi setiap warung yang ada, nanti pasti juga ketemu warung kopi”, pikir kawan sam optimis.

Laju Motor vespa memasuki jalan Yos Sudarso II, jalan antara pertigaan jalan pendidikan sampai pertigaan jalan Apt.Pranoto. “belum ada juga kawan, warung kopinya”, informasi dari kawan Sam dari belakang. “Bagaimana kalau kita ngopi di warung mbah yang esok tadi kita singgahi?”, tawarku. “siap kawan”, kawan sam mengiyakan.

“Ringkasnya kawan, kota Sengata ini sebagai kota yang sedang mekar membutuhkan warung kopi untuk menemani laju pertumbuhannya. Lihat sepanjang jalan yang kita lewati tadi, tidak ada satupun warung yang menspesialisasikan diri sebagai warung kopi. Padahal populasi warga Sengata ini konon yang dominan adalah orang Jawa. Bandingkan dengan di daerah Jawa sendiri, hampir-hampir dapat dipastikan di setiap sudut jalan ada warung kopi; setidaknya itu yang aku perhatikan dari kota Gresik, Lamongan dan kota tempat lahir kawan tatok sendiri; Tuban”, ujar kawan Sam diplomatis.

“Iya kawan”, selaku. “Ingat kawan, warung kopi juga bisa menjadi dalih pengalih kelesuan dan tempat melepas penat bagi para karyawan Perusahaan-perusahaan besar di sini setelah mereka bekerja seharian di PT mereka; Thiees, KPC, Pama, dan lain-lain. Dari sisi lebih positif warung kopi bisa mengalihkan kecenderungan dan konsentrasi massa yang saat ini suka njajan di remang-remang”, imbuh kawan Sam dengan berapi-api.

Perjalanan malam, 2 jam menyusuri jalan sepanjang kota Sengata itu memang tidak membuahkan hasil. Kami berkesimpulan bahwa perlu ada investasi modal untuk mendirikan warung kopi di Kota Sengata. “Tugas kita kawan, adalah membuat proposal ke Pemda Kutai Timur untuk mendirikan warung kopi, sekaligus menghindarkan masyarakat dari kecenderungan maksiat”. Kawan Sam mempungkasi pembicaraaan.
“Warung Kopi dan Usaha Menghindarkan Maksiat warga Kutai Timur”. Sangat masuk akal, pikirku.

Ditulis sebagai Kata Penghantar Kepergian Kawan Samsul Bahri kembali ke Lombok, setelah seminggu sama-sama meminum air Mahakam di Kutai Timur, Kaltim.-- 05 – 12- 09.
(MUSTATHO’)

-------- S E K I A N WASSALAMU’ALAIKUM WR WB-------

Labels:

Saturday, September 19, 2009

Lomba Karya Cipta Mars dan Hymne STAIS Kutai Timur 2009

Lomba Karya Cipta Mars dan Hymne STAIS Kutai Timur Tahun 2009

Berhadiah Rp.10.000.000,-

PENGUMUMAN

Sekolah Tinggi Agama Islam Sengata Kutai Timur mengadakan Lomba Karya Cipta Mars dan Hymne Sekolah Tinggi Agama Islam Sengata (STAIS) Kutai Timur.

Syarat dan ketentuan Umum:
1. Warga Negara Indonesia
2. Memiliki Kemampuan dalam bidang karya cipta lagu
3. Lagu merupakan ciptaan sendiri bukan hasil plagiasi atau jiplakan.
4. Peserta bukan anggota Panitia Lomba dan Unsur Dewan Juri.
5. Pemenang hanya diambil satu yang terbaik dan mendapat total hadiah 10 juta rupiah
6. Keputusan Dewan Juri berlaku mutlak dan tidak dapat diganggu gugat

Syarat dan Ketentuan Khusus:
1. Materi cipta mars
Materi lagu mars mencerminkan semangat kecintaan dan identitas STAIS Kutai Timur yang bernilaikan keindonesiaan, keislaman dan semangat lokalitas kutai timur.

2. Materi hymne
Materi hymne mencerminkan ungkapan rasa syukur dan ketulusan segenap keluarga besar STAIS Kutai Timur atas segala limpahan rahmat allah swt. 3. Materi Mars dan Hymne sejalan dengan visi, misi, tujuan dan sejarah STAIS Kutai Timur (selengkapnya dapat dilihat di Website STAIS Kutai Timur)

Aspek Penilaian
1. Kandungan lagu mencerminkan semangat ke-Islaman, ke-Indonesiaan, dan kearifan lokal budaya Kutai Timur
2. Kesesuaian lagu dengan visi, misi, tujuan dan sejarah STAIS Kutai Timur 3. Keserasian Aransemen


Pengiriman Hasil Karya Cipta:
Hasil karya dikirim dalam bentuk CD dengan format mp3 (aransemen & syair) Kepada Panitia Karya Cipta Mars dan Hymne STAIS Kutai Timur alamat : Kampus STAIS Kutim Jl. APT. Pranoto No.01 Sengata Kutai Timur Telp.(0549) 5505855 Website: www.staiskutim.ac.id dan Email: admin@staiskutim.ac.id

Kontak person :
1. M. Huda HP.0813 4648 5194
2. Imam Hanafie HP. 0812 5455 0203


Lomba Karya Cipta Mars & Hymne dibuka mulai tanggal 1 September 2009 dan batas akhir penyerahan hasil karya cipta paling lambat tanggal 31 Oktober 2009 via pos atau diserahkan langsung ke sekretariat panitia.

Pengumuman pemenang lomba tanggal 20 November 2009 di Website: www.staiskutim.ac.id dan surat kabar Tribun Kaltim dan Kaltim Pos

Published by
Mustatho'
081254447281
email tatok.m@gmail.com

Labels:

Sunday, August 23, 2009

Memburu Takwa di Bulan Suci Ramadhan

Oleh : Mustatho' | 23-Aug-2009, 13:49:23 WIB

Bulan Ramadhan 1430 H telah datang. Dapat dipastikan semua orang muslim di seluruh dunia berlomba-lomba untuk menyambut dan melaksanakannya. Di Indonesia sendiri, umat Islam padat agenda. Masjid, Mushola, majlis ta’lim dan tempat-tempat ibadah seluruhnya ramai dengan ritual peribadatan. Ibadah Ramadhan semakin menjadi semarak dengan banyaknya paket-paket ibadah dan kajian keislaman yang ditawarkan dan diliput live oleh media TV. Bulan Ramadhan sebagai syahrun mubarak (bulan yang penuh berkah), yang di dalamnya tersimpan keistimewaan yaum rahmah (bulan kasih), ampunan (yaum maghfirah), dan sekaligus kesempatan menjauh dari api neraka (itqun min al-nar) menjadi medan magnetic umat Islam untuk menggapainya.

Kegairahan (ghirah) ibadah ini tentunya menjadi indicator yang baik bagi keberagamaan di Indonesia yang akhir-akhir ini sedang diuji dengan stigma kekerasan dan terror atas nama agama. Pertanyaannya, seberapa efektif kegairahan ibadah di bulan Ramadhan ini mampu mensingkirkan pandangan nyinyir terhadap agama? Sekaligus mampu memperbaiki kualitas internal keagamaan muslimin di Indonesia? Membentuk pribadi saleh, saleh personal sekaligus sosial, tidak hanya pada momen bulan Ramadhan, tetapi sekaligus menciptakan dan melahirkan pribadi dan masyarakat muslim baru, masyarakat tamadun (berperadaban –istilah Nurcholis madjid) yang berlandaskan pada nilai ketakwaan (muttaqin).


Takwa Subtantif

Tidak dapat disalahkan memang, pandangan skeptis terhadap tercapainya tujuan puasa (muttaqin) ini. Terlebih melihat fenomena instan yang terjadi hampir di setiap bulan suci Ramadhan ini. Fenomena sosial yang terjadi setiap bulan puasa menjadi bukti empiris yang cukup kuat. Banyak perilaku orang yang berubah secepat kilat dan sangat berbeda dengan perilaku kesehariannya. Ramadhan bagai semisal magic yang mampu mengubah apapun hanya dengan mantra ‘abra-gedabra’. Hingga orang kemudian hanya peduli pada ritus-ritus sacral hanya dengan mengakrabi bulan puasa dan meningkatkan kesalehan personal tanpa mengerti subtansi ibadahnya.

Kualifikasi takwa digambarkan dalam al-Qur’an 2:3 adalah “orang yang beriman dan percaya pada yang gaib, mendirikan shalat dan menafkahkan sebagian rizki yang diberikan oleh Allah kepadanya”. Konsepsi Triadic antara kepecayaan pada yang gaib, internalisasi dalam diri dengan shalat dan sekaligus ekternalisasinya (praksis dari takwa) yakni dengan beramal baik kepada sesama.

Maqam takwa sendiri adalah sebuah perolehan simultan yang terus menjadi dan berproses secara berkesinambungan. Secara psikologis hal ini dapat digambarkan dengan hukum psikologi J. Peaget (Psikologi conditioning) bahwa jika seorang manusia sekali saja melakukan kejahatan, maka kesempatan untuk mengulangi perbuatan yang serupa semakin bertambah, sementara untuk melakukan perbuatan yang berlawanan semakin berkurang. Begitu juga sebaliknya dengan melakukan perbuatan yang baik selama Ramadhan dan konsisten setelahnya, maka dapat dipastikan seorang yang beriman hampir saja tidak bisa melakukan hal yang berlawanan; bahkan untuk sekedar memikirkannya sekalipun.

Logika inilah yang secara psikologis ada di balik pola pemberdayaan puasa. Bahwa “tujuan puasa adalah membentuk pribadi yang bertakwa”. Kepada makna inilah idealnya dikembalikan semua prosesi ritual ibadah puasa Ramadhan kita, hingga tujuan puasa (muttaqin) bukanlah konsep yang kabur dan sulit untuk diraih.


Takwa Praksis

Puasa merupakan ibadah paling tua dalam peradaban umat manusia. Demikian juga bagi umat Islam, puasa menjadi ibadah paling istimewa di antara ibadah yang lain. Puasa dalam Islam merupakan momentum aktualisasi nilai-nilai saleh dan kesempatan berbuat yang terbaik (ahsan al-amal) tanpa memandang pamrih dan menghendaki publisitas.

Sebagaimana disebut dalam hadis qudsi “puasa adalah untuk-Ku (Allah) semata, dan Akulah yang menanggung pahalanya”. Kerahasiaan puasa di sini merupakan nilai plus yang tidak ditemukan dalam ibadah lainnya. Hadis ini sekaligus bermakna bahwa muatan puasa secara subtantif hanya mempunyai dua tendensi, yakni kesadaran transcendensi dan internalisasinya. Internalisasi moral transcendental (Allah) pada pribadi manusia.

Dalam konsepsi teologis, nilai transcendental inilah yang menurut Fazlurrahman dalam Major Themes of the Qur'an, (1980) menempati puncak pyramid tertinggi dalam peribadatan dan kepercayaan kepada Tuhan. Al-Quran menerangkan bahwa mereka yang beriman dan bertakwa “adalah mereka yang mengimani kepada hal-hal yang gaib” (2:3). Percaya pada hal yang gaib dan menginternalisasikannya ke dalam diri inilah yang mampu menjaga seorang yang beriman tetap pada posisi takwanya untuk kemudian memunculkan spirit keagamaan secara langsung yang mampu memberikan pengaruh perilaku hidup secara nyata.

Sekali lagi dengan konsep internalisasi gaiblah yang hanya mampu mensterilisasi niatan aksi dari perbuatan baik di bulan Ramadhan kita. Siapa yang perduli dengan hinaan terlebih sanjungan, ketika tujuan ibadah seorang muslim melebihi hal-hal fisik dan inderawi?

Bulan suci Ramadhan menjadi tonggak amalan sirri bagi orang-orang yang melaksanakanya. Ajaran agama yang telah merasuk, mengendap dan kemudian dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, merupakan pemahaman yang bisa dianggap paling mendekati sempurna. Takwa adalah hasil dari olah internalisasi nilai transcendental ilahiyah yang diperoleh dari filosofi sirri puasa. Pemahaman seperti inilah yang mampu membentuk moralitas agama yang berkomitmen pada tindakan nyata dengan amal saleh, peduli pada sesama tanpa mengenal orientasi nilai untung-rugi. Dengan kepedulian dan aksi nyata inilah Islam membedakan umatnya. Di dalam al-Qur’an disebutkan “mereka yang tidak mempunyai kepedulian terhadap agama sebagai orang yang mendustakan agama” (al-ma’un;1-3).

Dengan argument serupa Asghar Ali Enginner dalam Islam and Its Relevance to Our Age (1993) menyatakan bahwa “orang ‘kafir’ bukanlah mereka yang berada di luar dan menentang agama Islam, tetapi mereka yang tidak memperhatikan tetangganya yang sedang kelaparan”. Ke arah aksi dan praktis sosial seperti inilah hasil dari puasa kita semestinya, yakni kepedulian sekaligus tindakan nyata untuk menolong sesama. Wa Allahu a’lam. (*)

Mustatho’, Dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Sengata (STAIS) Kutai Timur

Labels:

Saturday, August 8, 2009

POLITIK DAN AGAMA

MITOS POLITIK ISLAM
Menguak Narasi Budaya Kuasa dalam Islam
Mustatho’*

Konsep kepemimpinan Meritokrasi adalah konsep kepemimpinan yang didasarkan pada rekam-jejak, keahlian dan kecakapan, integritas, dan moralitas seseorang; terlepas dari mana ia berasal. Artinya semua orang atau warga negara mempunyai hak mengejar kekuasaan dan menjadi pemimpin tidak atas dasar penilaian ras, etnik, suku, agama maupun anggapan keunggulan asal-usul keturunan di atas yang lain, tetapi didasarkann atas pertimbangan kemampuan dan kualitas pribadi yang handal (political credentials) yang bisa menjadi inisiator yang efektif untuk mengatur dan mensejahterakan segenap bangsa, dan didukungan dengan pemikiran visioner dalam mengemban tugas-tugas politik pemerintahan dan menunaikan amanat dalam mengelola urusan kenegaraan.

Mempertimbangkan asal usul sebagai factor penentu kapasitas seseorang sama dengan mengingkari kehendak alam keterciptaan manusia. Tentunya setiap orang mempunyai asal-usul berbeda, dan hal ini bukan karena pilihan, melainkan merupakan takdir hidup. Seseorang manusia terlahir di dunia ini tidak dengan kebebasan memilih di mana ia dilahirkan dan melalui rahim siapa. Ia terlahir begitu saja mengikuti ketentuan yang telah digariskan padanya.

Moralitas politik mengajarkan, seorang pemimpin adalah mereka yang dapat mengemban amanat rakyat, memikul tanggung jawab politik, mampu menjawab segala rupa tantangan: domestik dan internasional, serta mampu mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.

Sebaliknya, mengindahkan pertimbangan moral dan prinsip meritokrasi, pada kasus kekuasaan di Indonesia misalnya, banyak kalangan elit kuasa Jawa terus menerus mereproduksi mitos kuasanya dengan berdasar pada ramalan Joyoboyo, bahwa kekuasaan di Indonesia adalah turunan dan untuk etnis Jawa. Konsepsi ini di ambil dari konsep notonogoronya Joyoboyo yang berarti Sang Penata Negara yang kemudian dirasionalisasi dengan dua nama pemimpin yang pernah berkuasa di Indonesia, Soekarno (no) dan Soeharto (to).

Para ahli antropologi menyebut mitos politik ini sebagai cultural narrative, untuk menjustifikasi kebermaknaan dan signifikansi sebuah kelompok etnik di pentas perpolitikan nasional. Chiara Bottici dalam The Anthropology of Political Myth (2007) menulis, ''Human beings need meaning and significance in order to master the world they live in, and political myths are cultural narratives through which human societies orient themselves, and act and feel about their political world''.

Mitos politik inilah yang oleh elit tertentu dijadikan basis legitimasi untuk mengukuhkan dominasi suatu kelompok etnik dalam praktik perpolitikan. Konsekuensi mitos ini kemudian memasung kesadaran dan menumpulkan rasionalitas politik bagi masyarakat. Dalam perspektif demikian, mitos politik merupakan bagian dari narasi budaya untuk melanggengkan dominasi politik suku tertentu di pentas kenegaraan dan menempatkan suku-suku lain pada posisi subordinat belaka.

Bagaimana dengan Islam?.faktanya, pergolakan politik dan kuasa dalam Islam lekat dengan mitos politik dan narasi budaya kuasa serupa. Alih-alih menciptakan konsep kuasa dan kepemimpinan ideal, kepemimpinan pasca nabi menjadi pelanggengan politik bagi suku Quraisy. Bahkan ditopang dengan perangkat budaya dan agama. Lihatlah ketika Abu Bakar mengintrodusir kriteria pemimpin, Umar dengan team formatur yang semuanya dari suku Qurays. Dan sejarah pembukuan al-Qur’an yang kemudian diformalkan hanya dengan bacaan Qurays. Negara madinah lebih tergambar sebagai Negara Qurays dari pada Negara umat Islam. Bukankah meritokrasi Islam mengajarkan “sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling bertakwa”.

Bagaimana dengan system politik khilafah?. Lebih-lebih khilafah, setali tiga uang dengannya. Di samping system khilafah adalah konsepsi yang belakangan hadir sepeninggal nabi, “pendirian kembali khilafah adalah sebuah ilusi”, kata seorang teman dari Mesir dengan bersemangatnya, setelah semalaman ia menghabiskan bacaan sebuah buku “Ilusi Negara Islam”. Wa Allahu a’lamu.

*Koordinator1 MPC (matapena Cendekia) Sengata
Telp. 081254447281 email tatok.m@gmail.com blog www.mustathok.blogspot.com

Labels:

Thursday, August 6, 2009

MENULIS DAN MEMBUAT SEJARAH

MENULIS DAN MEMBUAT SEJARAH

Mustatho’


Bagi R.A. Kartini “Menulis adalah proses bekerja untuk keabadian (verbal valent scripta manent)”, R.A. Kartini dalam surat-surat kepada kawan-kawannya. Bagi Ignas Kleden (2001), “Penulis adalah juru bicara zamannya”. Sementara bagi Jimly Asshiddiqie (2005), ia menulis adalah karena ingin menatap jejak pemikirannya di hadapan spasio-temporal ruang, tempat dan waktu.

Sejarah itu: “Jas Merah”, jangan sekali-kali melupakan sejarah!. orang mengenal adagium ini berasal dan dinyatakan oleh Ir. Soekarno –pemilik Negara Indonesia sebelum orde Baru. Juga sebuah tembang dari foklor jawa mengungkapkan Cikar dowo tipeti, tales ombo godonge. Dalam budaya Sunda, pentingnya arti sejarah (sebagai peristiwa) biasa dijadikan sebagai nasehat : "Kudu ngeunteung ka nu enggeus, nyonto ka nu bareto, diajar tina pangalaman, pikeun nyanghareupan kiwari jeung nyawang nu bakal datang".

Reiza D. Dienaputra dalam artikel Membuat Bangsa Ini Melek Sejarah (Harian Pikiran Rakyat, Jumat 27 Februari 2009) secara distingtif membagi sejarah ke dalam dua pola utama. Pertama, sejarah dalam arti objektif atau sebagai peristiwa itu sendiri dan kedua sejarah dalam arti subjektif atau rekonstruksi dari sebuah satu kisah.
Sejarah dengan arti yang pertama adalah nilai objektif dari peristiwa sejarah itu sendiri. Artinya kondisi sejarah yang hanya dialami, dirasa dan diketahui oleh pelaku sejarah pada saat peristiwa itu terjadi. Konstruk kedua adalah sejarah sebagai satu hasil rekonstruksi atas peristiwa yang telah atau pernah terjadi.

Dari segi metode, tulisan sejarah terbagi atas dua kategori. Pertama, tulisan sejarah ilmiah; kedua, tulisan sejarah populer, termasuk semi-ilmiah populer. Penulisan sejarah ilmiah adalah penulisan sejarah dengan prasyarat ketat yang ditempuh melalui pencarian dan pengumpulan sumber (heuristik), seleksi sumber (kritik intern dan ekstern), pengolahan data dan seleksi fakta hasil interpretasi, sampai dengan proses penulisan (historiografi), serta dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah metode sejarah.

Tulisan sejarah ilmiah memiliki ciri-ciri keilmiahan yang antara lain ditunjukkan oleh sistematika uraian (kronologis-diakronis); sifat uraian deskriptif-analisis; menunjukkan aspek kausalitas (sebab-akibat) sebagai "hukum sejarah", sehingga diperoleh kejelasan (eksplanasi) sebagai jawaban atas pertanyaan mengapa. Mengapa peristiwa atau masalah itu terjadi? Apabila kegiatan dalam proses penulisan sejarah ilmiah hanya dilakukan sebagian, sehingga tulisan sejarah yang dihasilkan hanya memiliki sebagian dari ciri-ciri sejarah ilmiah, maka tulisan itu termasuk ke dalam kategori semi-ilmiah populer.

Sementara penulisan sejarah populer umumnya dilakukan dengan tanpa/ kurang memperhatikan kaidah-kaidah metode sejarah. Dalam penulisan sejarah populer, biasanya kritik sumber dan seleksi data/fakta tidak dilakukan. Kalaupun dilakukan, tidak sepenuhnya berdasarkan kaidah metode sejarah. Demikian pula dalam proses penulisannya, penulisan sejarah populer umumnya tidak memperhatikan ciri-ciri tulisan sejarah ilmiah atau ciri-ciri sejarah sebagai ilmu.

Kuntowijoyo dalam Pengantar Ilmu Sejarah (1995), menekankan pentingnya imajinasi dalam penelitian dan penulisan sejarah. Menurut dia, dalam menjalankan pekerjaannya, sejarawan harus dapat mem-bayangkan apa yang (terjadi) sebelumnya; apa yang sedang terjadi, dan apa yang terjadi sesudah itu. Ia memberi contoh, “Misalnya ia akan menulis priyayi awal abad ke-20. Ia harus punya gambaran, mungkin priyayi itu anak-cucu kaum bangsawan atau raja yang turun statusnya karena sebab-sebab alamiah atau politis. Demikian juga sejarawan harus dapat membayangkan betapa bangga istrinya bila pria priyayi itu dapat menggaet penari tayub”.

Baik Soekarno, Kuntowijoyo maupun Reiza D. Dienaputra yang banyak berbicara sejarah di atas, ada satu kesepakatan umum yang dapat ditarik, yakni peran vital sumber sejarah sebagai media rekonstruksi (penulisan) sejarah itu sendiri, yang salah satunya adalah tulisan. Tak pelak tulisan inilah yang dapat menggiring seorang sejarawan ke dalam bingkai objektif sejarah itu sendiri. Selamat berkreasi dan membuat sejarah diri!!!!salam MataPena Cendekia.

Labels:

Thursday, July 23, 2009

ILMU DAN AGAMA

MENJEMBATANI AGAMA SEBAGAI ILMU
Opini
Mustatho*
Dimuat di Koran Jakarta, Jumat 30 Mei 2008

Banyak kalangan apriori terhadap agama, bahwa agama adalah unobservable, anti kritik dan menghambat kemajuan.Agama dikatakan sangat subjektif, tidak objektif dan tidak ilmiah. hingga kemudian muncullah pengucilan agama.Agama hanya ditempatkan sebagai dogma dan ortodoksi belaka.Agama kemudian dibedakan dengan dan dari jenis ilmu pengetahuan lainnya yang dinyana tampak objektif dan ilmiah. pertanyaannya kemudian adalah siapa yang bisa menjamin ilmu-ilmu sosial-sains sebagai ilmu objektif? yang bebas dari unsur subjektif? walaupun banyak kalangan ilmuan dan saintifik mengkalim dan meyakini demikian, namun demikian banyak di antara mereka hanya mampu berkelit bahwa objektifitas pengetahuan dan sains yang diyakini adalah objektif-kategoris yang dikehendaki oleh dunia ilmiah saat ini.

Jawaban di atas semakin mengkaburkan permasalahan dan memancing pertanyaan serupa, kategori ilmiah saat ini, siapa yang membangunnya? atas dasar episteme apa atribusi ilmiah ini tersemat? tentu jawabannya adalah tetap, antara objektif dan ilmiah adalah semata dari subjektifitas manusia. Manusialah yang menempatkan sesuatu sebagai objektif-ilmiah dan oleh subjektifitas manusiapulalah konsepsi ini dibenarkan (apriori). Hal urgent kedua adalah mempertanyakan fungsi dan tujuan ilmu pengetahuan. sebenarnya kemanakah tujuan ilmu pengetahuan-sains ini di arahkan? apakah ada ilmu tujuan yang benar-benar murni tanpa tendensi? bukankah kemurnian ilmu pengetahuan justru mencerabut kebaradaan ilmu pengetahuan dan peran vitalnya pada manusia sebagai penemu dan penciptanya dan sekaligus tujuannya?. Dengan kata lain perdebatan objektif-ilmiah dan pembedaan antara agama dan ilmu lain dapat ditekan karena dapat dikatakan bahwa segala ilmu baik sains ataupun ilmu agama adalah untuk manusia. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa antara Agama sebagai ilmu dan ilmu-ilmu humaniora lain mempunyai titik pijak sama, yakni sama dalam asal, tujuan dan dalam keberadaannya, keduanya memiliki landasan sama (subjektifitas manusia). Lalu kenapa ada pembedaan dan pembidangan antara sains sebagai ilmu dan anggapan bahwa agama di luar sistem ilmu manusia?.

Sebenarnya kecerabutan Agama dari ilmu lainnya -terutama sains, adalah kecelakaan sejarah yang tanpa proses validitas diterima begitu saja. Renaissance Eropa memulai memisahkan antara sains di satu sisi sebagai ilmu dan agama sebagai dogma di sisi lain. Dalam sejarah pemisahan inilah yang perlu kita teliti, apakah pemisihan agama memang atas dasar unsur agama yang dimiliki agama Kristen saat itu ataukah hanya pada peran gereja yang semakin dominan dalam penentuan keilmuan saat itu. Sejarah pada dirinya tidak dapat menjadi alat validasi otonom tanpa seperangkat kejadian dan alasan di baliknya (yang menjadi penyebab).

Benar bahwa agama adalah urusan subjektif. Namun tidak berarti bahwa agama tidak bisa diteliti dan dipelajari sama sekali. Layaknya Ilmu pengetahuan lain, agama pada dasarnya juga mempunyai seperangkat alat, metodologi dan sistem yang dapat dipersamakan dengan ilmu pengetahuan. Kalau dalam ilmu pengetahuan mengenal metodologi maka agama memiliki titus sebagai sarana pendekatan, dogma sebagai aksioma dan bentuk ekstrim mitos sebagai ideology dalam pengetahuan.

Agama Sebagai Ilmu

Dalam menjembatani agama sebagai ilmu, sekali lagi harus memperhitungkan seperangkat pengetahuan dan mental siap menerima dan membuang pra anggap bahwa agama adalah urusan ketuhanan belaka. Landasan Agama sebagai ilmu adalah keterpemenuhanan perangkat di dalamnya. Sebagai ilmu agama telah memprakarsai penemuan dan pembenaran metode empirisisme, objektifitas dan relativisme. Perangkat agama sebagai ilmu itu adalah:

Pertama, pengalaman agama dalam kategori sains adalah pengalaman yang mampu diterangkan. Immanual Kant menyebutnya sebagai pengalaman noumena yang berlawanan dengan pengalaman fenomenal. Pengalaman noumena ini memiliki konsep dasar metaempiris. Seperti konsep ruang-waktu yang pada dataran konsepsional adalah metaempiris. Apakah kita mengetahui esensi ruang dan waktu? ruang dan waktu dalam wujud fenomenal diterima keberadaannya secara apriori bahwa waktu dan ruang mesti ada sebagai ukuran keberadaan manusia. Demikian juga pengalaman keberagaman manusia yang dapat dirasakan langsung walaupun sulit untuk ditunjukkan.

Kedua, kesadaran Agama dapat diperoleh manusia ketika manusia mampu melepaskan dominasi sensualitas indrawi dan paradigma pemikirannya. Yang dimaksud di sini adalah sensualitas indrawi dan paradigma manusia akan selalu menarik manusia ke dalam unsur-unsur fisik yang dimilikinya dan paradigma yang membenarkan pemikiran-pemikirannya semata. Kesadaran agama dapat dilatih dan dapat diperoleh dengan latihan-latihan, seperti sembahyang, meditasi, shalat dan teknik-teknik agama yang lain yang mampu menetralisir peran dominan fisik dan pikiran seseorang.

Ketiga, kepercayaan terhadap Agama adalah kepercayaan yang dimiliki oleh para ilmuan. Konsep relativitas dan keragu-raguan mengandaikan sebuah keyakinan, bahwa di balik keraguan pada dasarnya adalah sebuah keyakinan. Yakin terhadap keraguan itu sendiri. Orang yang ragu berarti sekaligus membangun keyakinan bahwa ada di balik keyakinan relativitasnya dan keraguannya sebuah keyakinan terhadap hal lain selain itu. Demikian pulalah keyakinan terhadap agama ada.

Keempat, kondisi Intuisi yang dominan sebagai perangkat pembenar dalam agama adalah hal yang biasa, yang bisa dilatih dengan pembiasan rutin. Seorang pianis secara intuitif akan merasakan sebuah kesalahan dalam ritme karena terbiasa dan terlatih dengan semua not dan musik. Begitu juga intuisi keagamaan hanya membutuhkan pelatihan rutin dan pengasahan belaka. Lalu bagaimana membuktikan kebenaran kata-kata intuitif ini? Ignas Kleden menggambarkan dengan cantik kondisi ini, "kepercayaan seorang empirisme adalah kepercayaan terhadap alam bahwa alam ini tidak mungkin berbohong. hal yang persis juga terjadi pada kaum Agamawan bahwa tidak mungkin Tuhan juga membohongi hambaNya dengan pemberian intusi yang telah diberikanNya”.

Mustatho
Koordinator MataPena Cendekia, STAIS Kutai Timur
http://mustathok.blogspot.com
email. Tatok.m@gmail.com
tlp. 0549-5503795

Labels:

DISIPLIN ITU INDAH


BUDAYA DISIPLIN LALU LINTAS
(20 Push Up untuk Pelanggar Lampu Merah)
Ulasan Perjalanan Jakarta-Kalimantan Timur

Mustatho’

Minggu (10/11) Pondok Pinang, Jakarta Selatan News-.

Angkot D01 warna biru langit meluncur gontai dari arah pasar Kebayoran Lama. Sesekali angkot berhenti tiba-tiba di setiap gang yang dilewatinya. Seakan mengerti kehendak sopir tuk memastikan tidak ada seorangpun yang bertujuan ke arah Ciputat diserobot angkot lainnya, buru-buru sekali gas menyalak. Kepulan asap kenalpotpun menghintamkan jalan menandai jalanan yang telah dilewatinya.

“Tarikan lagi sepi, masak sampai sejauh ini baru ada 3 penumpang diangkotku”, gerutu sang sopir sambil menatap kaca pengintai penumpang yang terletak di atas kepalanya. “Benar juga hanya ada 3 orang”, sahutku dalam hati, sambil memelototi para penumpang yang terdiri dari aku, seorang ibu separuh baya yang tampaknya menghabiskan uang banyak untuk mengusir kulitnya yang mulai agak keriput dengan mack up tebalnya, dan seorang bapak yang jelas sekali merasa capai setelah semua dagangannya habis terjual di Pasar. Tampaknya ia telah berjualan sedari tadi pagi buta, melihat dua keranjang besar sayurnya yang kosong dan telah berganti isi dengan sembako dan dua kiloan buah jeruk segar.

Jakarta memang tak pernah bosan dengan tradisi macetnya. Salip menyalip sudah biasa, siapa yang mau mengalah kalau uang setoran belum tertutupi?. Disiplin lalulintas, rambu, apalagi polisi, gampanglah nanti, ”urusan belakang itu”, demikian paham jamak di kalangan sopir angkot. Hingga tak heran para polantas sering dibuat marah kebelingsatan oleh ulah sopir yang dengan sekenanya berhenti di zona merah stop, ataupun semaunya menyerobot lampu merah yang nyata-nyata melarang setiap kendaran melaju. Lajur Bus trans Jakarta pun ibarat jalur khusus untuk mereka, karena lebih sering dilewati mereka dari pada bus Trans Jakarta sendiri.

Namun apakah pelanggaran fital yang menjadi tidak fital lagi karena saking biasanya dilanggar ini selamanya bisa disiasati?. “Polisi juga manusia biasa, butuh makan dan memiliki hasrat menikmati kepuasan sensasi rokok kretek Dji Sam Soe disela-sela hirupan rasa pahit-getirnya secangkir kopi hitam”. “Jadi semuanya itu adalah urusan kompromi” tandas setiap kepala para pelanggar.

Tiba-tiba angkot yang telah membawaku jauh dari Kebayoran Lama itu mencicit, mengeluarkan jeritan miris dari keempat rodanya. Roda-roda yang sudah mulai botak, namun tidak kehilangan kekokohannya ini tak sempat bersiap untuk berhenti, karena tiba-tiba seorang polisi telah berkacak pinggang di depannya, menfungsikan peluit yang dari mulai ia bertugas telah melingkar di pundak kanannya untuk menghentikan laju kita.

“Apalagi sih bang?”. Ibu-ibu setengah baya dengan suara ketus merespon aksi berhenti yang tiba-tiba ini. Nampaknya ia belum tahu kalau alasan berhenti kali ini karena dihentikan Polisi. Yang ia pikir, berhentinya D01 kali ini menambah banyaknya rekord “ngetime” tanpa alasan seperti sebelumnya. “O… ada Polisi y”, emang kenapa sih bang?”.

Di luar tampak obrolan Polisi-Sopir Angkot. Namun aneh, Bapak Petugas itu tak menghendaki sang sopir lebih mendekat. Dengan mengangkat tangan dan menunjuk arah memutari motornya, polisi menghardik. Dengan ketaatan, sang sopir memutar dan setibanya di lokasi yang dikehendaki Pak Polisi, yang tampak oleh kami adalah Push Upnya sopir angkot.

Sambil berjalan kembali ke angkotnya, senyum kecut keluar dari bibir si sopir. Antara malu dan sadar, sopir ini berujar, “Di suruh Push Up 20 kali”, entah kepada siapa ujaran ini ditujukan, karena di antara kami (penumpang) belum seorangpun yang membuka pertanyaa. “Emang kenapa?” seorang nenek yang paling diam karena kantuknya semenjak naik dari Pasar Kebayoran ini tak pelak bertanya. “Tadi, melanggar lampu merah”, jawaban yang mendiamkan kita semua.

“Oalah saiki hukumane push up toh, kanggo hukuman bagi pelanggar lalu lintas!.” batinku dalam hati.

Entah karena PERDA lalu lintas atau memang karena kreatifitas Bapak Polisinya. Yang jelas, yang membuatku salut adalah keinginan satu Polantas ini untuk menyadarkan tindak pelanggaran yang selama ini dianggap biasa, patut diacungi jempol.

Tujuan punishment yang ditunjukkan Bapak Polisi dalam kasus inilah yang seharusnya dijadikan acuan kerja oleh setiap aparatus negara. Bahwa punishment yang efektif bukanlah pada bentuknya yang memberatkan, tetapi pada efektifitas penyadaran yang dihasilkannya.

Peristiwa ini nyata, dan terjadi sepulang saya dari Rumah saudara, Mas Aak (Ibnul A’roby –wartawan Indopos), di Kampong Baru, Kebayoran Lama, Minggu 09 Nopember 2008. Beliaunya sendiri (Mas Aak) kini, tinggal di Cawang mulai 15 Nopember 08 yang lalu. Sementara penulis kini ada di Sangata, Kutai Timur Kaltim, untuk memburu cita-citanya, sebagai dosen di STAI Sangata.